Jumat, 02 Desember 2016

Tugas Antropologi Agama, Bersih Desa di Desa Punden Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara




TRADISI JOGETAN DI DESA PUNDEN KECAMATAN PAKIS AJI KABUPATEN JEPARA
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah : Antropologi Agama
Dosen pengampu: Efa Ida Amaliyah, MA



Oleh :

1.      DINA JUZ HAYYA               (1430210001)




 
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KUDUS
JURUSAN USHULUDDIN / ILMU AQIDAH
TAHUN 2016






A.    Pendahuluan.
Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berhubungan dengan kebudayaan, salah satu unsur penting dan universal kebudayaan adalah kesenian yang merupakan hasil karya manusia dalam usahanya memenuhi kebutuhan terhadap rasa keindahan. Kebutuhan rasa keindahan yang menimbulkan kesenangan dan kepuasan hati tidak hanya saja dibutuhkan oleh satu atau sekelompok manusia, tetapi merupakan kebutuhan setiap manusia, karena itu kesenian merupakan salah satu kebutuhan manusia yang universal. Dengan kesenian pula dapat memberi keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani.
Kebudayaan tidak lepas dari masyarakat, kebudayaan adalah cara dan manifestasi kehidupan mahluk manusia, kebudayaan adalah produk dari manusia. Manusia tidak semata – mata sebagai individu tetapi sebagai anggota kelompok (homo sosial). Masyarakat merupakan wadah dari kebudayaan tempat manusia mengaktualisasikan cipta, karya, rasa dan karsanya. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang multi kultural yang memiliki keragaman kebudayaan, contohnya keragaman adat istiadat. Kelestarian kebudayaan ini perlu dijaga dengan baik karena merupakan suatu aset yang sangat berharga dan sangat bernilai tinggi bagi kehidupan masyarakat. Salah satu kegiatan adat istiadat biasanya tercermin dengan adanya suatu upacara yang dilakukan secara rutin pada waktu tertentu. Salah satu kegiatan dalam adat istiadat adalah kegiatan adat istiadat biasanya tercermin dengan adanya suatu upacara yang dilakukan secara rutin pada waktu tertentu.
Salah satu kegiatan dalam adat istiadat adalah ritual. Ritual adalah teknik, cara atau metode membuat suatu kebiasaan menjadi suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat sosial dan agama. Ritual bisa pribadi atau kelompok, wujudnya bisa berupa doa, tarian, drama dan sebagainya. Ritual biasanya dilakukan di suatu tempat yang menurut masyarakat itu sendiri merupakan tempat yang dianggap khusus dan dipercaya dapat memberikan suatu berkah bagi mereka.
Dalam suatu daerah pasti ada yang namanya ritual atas kepercayaan yang sudah ada sejak nenek moyang seperti halnya kegiatan sedekah bumi, haul sesepuh daerah tersebut atau hanya sekedar selametan di makam-makam para wali sebagai tanda syukur kepada Allah dan do’a bersama agar desa tersebut selalu dalam lindungan Allah, rizki berlimpah, tanah subuh, dan dijauhkan dalam segala marabahaya. Seperti halnya penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada kali ini di desa Punden kabupaten Jepara. Dimana dalam desa tersebut ada acara rutinan setiap Tahunnya untuk memperingati haul danyang desa tersebut, yaitu tradisi jogetan. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini penulis meneliti tentang tradisi jogetan di desa Punden Jepara. Bagaimana proses tradisi jogetan tersebut dan bagaimana respon masyarakat terhadap adanya ritual jogetan di desa punden tersebut.

B.     Pembahasan.
1.      Pengertian Upacara Tradisional (Bersih Desa)
Bersih desa adalah suatu tradisi yang sudah ada dalam masyarakat. Makna yang ada adalah makna kosmologi dan makna simbolik yaitu bagi warga masyarakat bahwa bersih desa sarana untuk menghormati nenek moyang dengan mengingat dan datang ke makam tiap tahun sebagai ungkapan kesungguhan sikap terhadap yang ”kudus” (danyang) sehingga sebagai bentuk kesungguhannya mereka membawa sesaji dengan harapan bahwa keinginan atau hajat akan dikabulkan oleh Allah dengan danyang sebagai perantara karena dianggap sebagai orang yang mempunyai kelebihan sehingga lebih dekat dengan Allah. Meskipun demikian, dalam bersih desa juga terjadi pergeseran makna ke arah kesantrian karena sekarang pada pelaksanaannya unsur-unsur keislaman lebih dominan (hadrah, semaan Qur’an, dan pengajian) dibanding unsur-unsur kejawen dan mistis. Selain mempunyai makna, bersih desa juga mempunyai fungsi, yaitu sebagai transfer pendidikan dan ruang integrasi. Fungsi transfer pendidikan yaitu mengenalkan tradisi yang sudah lama untuk terus dilestarikan oleh kalangan anak muda agar mereka tahu bahwa di desa ada danyang yang telah berjasa membangun desa. Sedangkan fungsi sebagai ruang integrasi adalah saat berkumpul di semua acara dalam rangkaian ritual terjadi kohesi sosial (silaturahim) dan integrasi tatkala suasana yang tercipta dengan obrolan-obrolan ringan sehingga terjalinnya suasana santai yang memberi ruang relasi antara mereka yang selama ini terpisah. [1]
Urf (tradisi) adalah hal yang dikenal dan dijalani oleh masyarakat dalam kehidupan dan interaksi mereka, baik berupa ucapan, tindakan, maupun meninggalkan sesuatu.
Menurut sebagian fuqaha, urf disebut dengan ‘adah (adat kebiasaan). Karena itulah maka mereka mengatakan bahwa keduanya adalah nama untuk hal yang dikenal, menjadi kebiasaan, dan dijalani oleh masyarakat dalam kehidupannya. Ia terbagi menjadi beberapa bagian yaitu
Pertama, dari segi penamaan ia terbagi menjadi urf qauli (tradisi yang bersifat ucapan) dan urf amali ( tradisi yang bersifat perbuatan. Urf qauli misalnyakebiasaan masyarakat menggunakan kata walad (anak) untuk anak laki-laki, tidak termasuk anak perempuan, meskipun secara bahasa ia digunakan untuk keduanya.[2] Diantaranya adalah Firman Allah SWT : “ Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pisaka untuk) anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan (An nisa’ : 11) sedangkan Urf amali misalnya kebiasaan masyarakat yang melakukan jual beli seperti serah terima tanpa menggunakan pengucapan akad jual beli.
Kedua, dilihat dari segi keumuman dan kekhususannya dibagi menjadi urf ‘aam dan ‘urf  khash. ‘urf ‘aam (kebiasaan umum) adalah sesuatu yang biasa dilakukan masyarakat diseluruh negara pada waktu tertentu. Misalnya, kebiasaan mereka menggunakan kamar mandi umum tanpa ketentuan berapa lama di dalam kamar mandi dan berapa jumlah air yang diunakan. Sedangkan ‘urf khash (kebiasaan khusus) adalah suatu kebiasaan yang hanya dikenal disebagian wilayah. Misalnya kebiasaan sebagai penduduk Yaman mendahulukan sebagian mahar dan menunda sebagian yang lain hingga mendekati satu diantara dua hal, kematian atau perceraian.[3] Namun yang dimaksud tradisi (kebiasaan) pada kali ini adalah kepercayaan dalam suatu masyarakat akan adanya ritual-ritulan khususnya masyarakat Jawa yang masih kental dengan tradisi kejawennya. Seperti adanya upacara-upacara tradisional.
Upacara tradisional merupakan salah satu wujud peninggalan kebudayaan. Kebudayaan adalah warisan sosial yang hanya dapat dimiliki oleh warga masyarakat pendukungnya dengan jalan mempelajarinya. Adapun cara atau mekanisme tertentu dalam tiap masyarakat untuk memaksa tiap warganya mempelajari kebudayaan yang didalamnya terkandung norma-norma serta nilai-nilai kehidupan yang berlaku dalam satu pergaulan masyarakat yang bersangkutan. Mematuhi norma serta menjunjung nilai-nilai itu penting bagi warga masyarakat demi kelestarian hidup bermasyarakat. [4] seperti halnya yang terjadi di desa punden Jepara yang masih melestarikan upacara tradisional yang dinamakan “Jogetan”.

2.      Konsep dan Prosesi  Tradisi Jogetan di Desa Punden Jepara.
Desa Punden adalah suatu Desa yang berada di kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara. Di desa tersebut ada suatu tradisi yang unik setiap Tahunnya. Kenapa dibilang unik karena tradisi tersebut bernama tradisi ”Jogetan”. Dimana tradisi tersebut adalah tradisi untuk memperingati haul danyang dalam desa tersebut sekaligus sedekah bumi. Mengapa disebut jogetan? Karena disela sela upacara tradisional tersebut diselingi dengan acara Jogetan, yaitu berjoged yang diiringi dengan tembang-tembang jawa lengkap dengan gamelan-gamelan dan alat musik Jawa.
Tradisi jogetan dilaksanakan setiap hari senin pahing pada akhir tahun Hijriyah bertepatan haul Danyang desa punden tersebut yaitu mbah madinah. Kebanyakan di daerah lain apabila emperingati haul seseorang bertepatan dengan tanggal kematian namun pada daerah Punden tersebut mereka punya perspektif mereka sendiri yaitu bertepatan dengan hari kematianya yaitu diakhir tahun Hijriyah jelas Bapak Baidhowi selaku warga yang saya wawancarai. Beliau mengatakan tradisi tersebut sampai sekarang masih terlaksana Alhamdulillah dan konsisten pada hari tersebut.[5]
Prosesi atau runtutan acara “Jogetan” tersebut adalah yang pertama yaitu pada malam senin seblum hari H, di desa tersebut diadakan tahlilan bersama yaitu di pelataran punden (makam mbah madinah) dilanjut dengan pengajian sampai selesai yang melaksanakan acara ini adalah kepala desa setempat namun untuk dana yaitu diperoleh dari iuran warga desa Punden tersebut. Lalu besoknya pada saat hari H semua warga desa tersebut kumpul di pelataran Punden (makam) pada jam 13.00 siang atau setelah dzuhur untuk acara jogetnnya. Joget disini kata bapak baidhowi bukanlah berjoget ria musik dangdut melainkan yaitu berjoget diiringi dengan tembang-tembang jawa lengkap dengan alat musik jawa yaitu gamelan. Warga yang berjoget tidaklah semuanya hanya yang berkenan saja serta warga yang lain memang disediakan tempat untuk duduk lesehan dibawah tenda . Mereka yang tidak berkenan untuk joget hanya menyaksikan saja.Biasanya hanya 2 atau 3 orang saja yang iku berjoget dan biasanya yang ikut berjoget disebut dengan (Peton).  Mengapa diadakan jogetan karena konon dulunya ini merupakan tradisi yang smpai sekarang dilestarikan karena musik musik jawa, nyanyian-nyanyian jawa merupakan hobi atau hal yang disukai oleh mbah madinah dahulunya, maka dari itu masyarakat desa Punden sejak dulunya mengadakan tradisi Jogetan tersebut agar tetap lestari sampai sekarang.
Setelah acara jogetan tersebut acara penutupnya yaitu dengan selametan (sedekah bumi).[6] Slametan adalah upacara sedekah makanan dan doa bersama yang bertujuan untuk memohon keselamatan dan ketentraman untuk ahli keluarga yang menyelenggarakan. Biasanya untuk hajatan keberangkatan naik haji ke tanah suci, keberangkatan yang mau sekolah ke luar daerah, pendirian rumah baru, dan sebagainya.[7] Pada desa Punden selmatan yang dilakukan adalah untuk rasa syukur dan meminta perlindungan kepada Allah agar selamat di dunia dan terhindar dari bahaya.
Dimana para warga desa Punden tersebut sebelumnya sudah membawa makanan berupa nasi dan lauk pauk unutuk di doakan bersama sama. Bagi setiap warga yang mempunyai hasil bumi maupun ternak di himbau untuk membawanya bagi yang sayur untuk disedekahkan dan bagi hewan ternak di doakan oleh sesepuh setempat agar terhindar dari penyakit dan sebagainya. Semua hewan warga dikalungi dengan kupat dan lepet (dalam istilah Jawa) lalu didongani. Sedangkan sayur mayur warga untuk disedekahkan sebagai rasa syukur masyarakat atas nikmat yang telah di dapat. Mereka yang sudah membawa makanan berupa nasi dimakan bersama sama setelah di slameti atau di doakan. Dimana semua upacara tradisional Jogetan bertujuan untuk meluapkan rasa syukur warga atas segala rizki yang berlimpah serta berdo’a untuk keselamatan desa Punden tersebut.

3.      Respon Masyarakat Terhadap Tradisi Jogetan di Desa Punden jepara.
Dalam suatu kehidupan bermasyarakat pasti akan ada hubungan atau sikap perbedaan pendapat, karena hidup dalam bermasyarakat adalah kita hidup berrsama dalam segala perbedaan. Tentu dalam setiap acara atau tradisi di sebuah desa pasti lah warganya ada yang setuju dan ada yang tidak setuju semua hal yang wajar asalkan tidak merusak suasana atau acara yang telah berlangsung. Saya sudah mewawancarai beberapa warga di desa Punden Jepara mengenai adanya tradisi Jogetan tersebut. Ada beberapa yang setuju dan ada beberapa orang yang tidak setuju. Namun kebanyakan dari mereka adalah setuju karena itu tidaklah berpengaruh negatif bagi warganya. Mereka yang setuju beralasan bahwa hal tersebut sangat baik, dan juga menurutnya tidaklah negatif bagi warganya karena memang tradisi tersebut adalah bentuk rasa syukur mereka kepada Allah dan menghormati danyang tersebut yang dulu mbahu rekso desa tersebut. Acara itu pun dilakukan setahun sekali dan tidak masalah bagi mereka, mereka berkata hal itu juga bisa menjadi ajang silaturahim antara warga satu dengan warga lain agar tejalin ke akraban dan kebersamaan dengan sesama warga desa Punden yang jarang berkumpul bersama seperti itu.
Ada juga warga yang tidak setuju dengan tradisi tersebut ada yang beralasan bahwa mereka enggan untuk menyedekahkan sebagian hasil bumi mereka ada juga yang malas. Ada juga warga yang beralasan bahwa tidak suka dengan acara Jogetan tersebut karena banyak madharatnya tegasnya, beliau mengatakan bahwa biasanya dalam tradisi jogetan tersebut seringkali ada warga yang ikut berjoget berbuat tiak menyenangkan kepada sindennya, sampai ada yang nekat menciumnya ini dipandang tidak baik baginya, apalagi acara tersebut banyak anak-anak yang melhat. [8]
4.      Teori  Para Tokoh Antropologi.
Tokoh yang pertama yaitu Weber, menurutnya, pendefinisian fenomena yang kompleks semacam agama hanya dapat dilakukan melalui kesimpulan dari suatu kajian. Tetapi dia menyatakan bahwa keyakinan pada yang superanatural adalah fakta universal yang ditemukan dalam seluruh bentuk masyarakat awal. Namun demikian, agama kesukuan yang sekalipun “ relatif rasional”, tetapi menurutnya pada dasarnya masih bersifat magis, ritualistik, dan diorientasikan pada dunia. Bentuk-bentuk agama “dalam tahap permulaan (elementer)” menurutnya berfokus pada persoalan keduniaan: kesehatan, menurunkan hujan, dan kepemilikan. Maka, tulisnya “ perilaku atau pemikiran keagamaan atau magis tidak bisa dilepaskan dari rangkaian perilaku keseharian yang memiliki tujuan, khususnya karena akhir dari aktifitas keagamaan dan magis pada dasarnya adalah tujuan ekonomi”. [9]
Tokoh yang kedua yaitu Spencer, dia menyimpulkan bahwa “penyembahan terhadap leluhur merupakan akar bagi setiap agama” dengan mengacu pada kekayaan materi etnografis dia memperlihatkan bahwa keyakinan terhadap roh orang yang telah meninggal merupakan keyakinan universal, berbeda halnya dengan fetisisme. Bahkan dia menyatakan bahwa keyakinan totemik merupakan suatu bentuk penyimpangan dari penyembahan terhadap para leluhur. [10]

C.     Kesimpulan
Dari pemaparan diatas kita tahu bahwa dalam suatu kehidupan masyarakat pasti ada suatu tradisi dari nenek moyang yang masih terlaksana sampai sekarang. Tradisi dalam suatu daerah biasanya ditujukan untuk sesepuh atau nenek moyang desa tersebut. Seperti halnya Tradisi Jogetan yang ada di Desa Punden jepara. Tradisi tersebut adalah ritual untuk memperingati haul danyang desa Punden tersebut, ada sedekah bumi dan Jogetanya. Jogetan dilakukan karana meneruskan tradisi atau hobi sang danyang yaitu mbah madinah agar tetap lestari sampai sekarang. Setelah itu mereka mengadakan selmatan atu sedekah bumi bersama-sama. Mereka mebawa hsil bumi mereka untuk disedekahkan dan hewan ternak untuk didoakan agar terhindar dari penyakit.semua itu mereka lakukan untuk ungkapan rasa syukur kepada Allah dan agar diberi keselamat dan terhindar dari bahaya serta selalu dalam lindungan Allah.













DAFTAR PUSTAKA
Abdullah bin Qasim Al-Wasyli, 2001,  Menyelami samudera 20 Prinsip Hasan Al-Banna, Karangasem,  Era intermedia.
Purwadi, 2006, Upacara Tradisional Jawa, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Wawancara bersama Bapak Baidhowi pada hari Sabtu 08 Oktober 2016 di Desa Punden Jepara.
Brian Morris, 2003, Antropologi Agama, Yogyakarta, AK Group.
Journal penelitian Efa ida Amaliyah, Makna dan Ritual Bersih Desa Serta Respon di Kalangan Masyarakat desa Sekoto, kecamatan pare, kabupaten kediri, diterbitakan oleh Universitas Gadjah mada, 2007.
























LAMPIRAN 1
Wawancara bersama narasumber Sabtu, 08 Oktober 2016 di Desa Punden Jepara
Narasumber : Bapak Baidhowi
Pewawancara : Dina Juz Hayya

Pewawancara       : Assalamualaikum Wr Wb
Narasumber          : Waalaikumsalam Wr Wb. Ada yang bisa saya bantu dik?
Pewawancara       : maaf menggangu waktunya sebentar pak saya dari desa sebelah     yaitu desa Lebak ingin menanyakan beberapa hal dengan bapak, apakah bapak bisa membantu?
Narasumber          : Iya dik silahkan, mau tanya tentang apa?
Pewawancara       : saya mau bertanya mengenai Tradisi Jogetan yang ada di desa bapak, untuk keperluan tugas kuliah.
Narasumber          : ooo itu, iya silahkan dek insyaallah akan saya jwab sepengetahuan saya.
Pewawancara       : iya pak makasih. Pertma saya mau bertanya, kapan sebenarnya waktu pelaksanaan tradisi Jogetan tersebut pak ?
Narasumber          : tradisi iu dilaksanakan setiap satu tahun sekali, tepatnya pada hari senin pahing pada akhir bulan hijriyah.
Pewawancara       : lalu kenapa harus pada hari itu pak?
Narasumber          : karena pada hari itu adalah bertepatan dengan hari sedo.nya sesepuh atau yang mbahu rekso desa Punden ini dik, yaitu beliau Mbah Madinah. Karena orang-orang itu persepsinya beda dik ada yang haul bertepatan dengan tanggal atau bulan lahir, namun di desa kita bertepatan dengan hari lahir di akhir tahun hijriyah.
Pewawancara       : oooo seperti itu, lalu bagaimana pak prosesi acaranya?
Narasumber          : pada malam seninnya diadakan tahlilan setelah tahlilan ada pengajian, lalu besoknya habis dzuhur Jogetan untuk melestarikan budaya dan acara penutupnya dengan selamatan atau sedekah bumi.
Pewawancara       :  lalu darimanakan dana yang digunakan pak?
Narasumber          : semua dana tersebut dari iuran warga dik.
Pewawancara       : lalu bagaimana dengan jogetan itu pak? Apakah dangdut kah? Atau bagaimana pak?
Narasumber          : bukan dek jogetan tersebut bukanlah joget oleh para biduan atau semacam musik dangdut, namun penyanyinya adalah sinden dan diiringi dengan gamelan-gamelan. Konon dulu ceritanya hal tersebut adalah hobi atau kesukaan mbah madinah oleh karena itu tradisi Jogetan tersebut dilestarikan hingga sekarang. Saat acara pun warga yang ingin berjoget boleh berjoget, sedangkan yang tidak boleh duduk-duduk ditenda. Sedangkan orang yang ikut berjoget disebut dengan (peton).
Pewawancara         : Lalu acara yang terakhir adalah selamatan dan sedekah bumi, itu baaimana prosesnya pak?
Narasumber          : untuk yang acara terakhir sebagai penutup, biasanya saat acara warga diminta untuk membawa nasi dan lauk pauk untuk di doakan dan dimakan bersama-sama. Sedangkan warga yang mempunyai hasil bumi seperti buah, sayur disedekahkan dan yang mempunyai binatang ternak di bawa dan dikalungi dengan ketupat lepet untuk didoakan supaya terhindar dari segala macam penyakit.
Pewawancara       : apakah setelah itu sudah selesai acaranya pak? Lalu apa tujuan diadakannya tradisi tersebut bagi warga?
Narasumber          : ia dek acaranya hanya sampai sore setelah itu selesai. Tujuan diadakannya tradisi tersebut selain untuk melestarikan budaya yang telah ada di masyarakat, itu juga merupakan bentuk rasa syukur para warga kepada Allah SWT karena sudah diberi rezeki yang melimpah dan supaya selamat dan dijaukan dari marabahaya.
Pewawancara       : oo seperti itu pak, kalau begitu saya mau mengucapkan terimakasih atas waktu bapak dan informasinya, maaf telah mengganggu waktunya pak.
Narasumber          : iya dik sama sama. Semoga ilmunya ini bermanfaat.
Pewawancara       : iya pak terimakasih. Wassalamualaikum Wr Wb
Narasumber          : Waalaikum salam Wr Wb.
















LAMPIRAN II
Wawancara bersama beberapa warga mengenai pendapat mereka tentang adanya Tradisi Jogetan di Desa Punden Jepara.
                                
Wawancara 1 :
Pewawancara : Assalamualaikum buk, maaf mengganggu sebeentar saya mau bertanya.
Ibu Umroh      : iya nduk, mau tanya apa?
Pewawancara   : saya hanya ingin bertanya satu pertanyaan kira kira bagaimana pendapat ibu mengenai adanya Tradisi jogetan di desa ini bu?
Ibu Umroh      : kalau saya sih setuju saja nduk, apalagi tradisi tersebut sudah ada, jadi saya hanya mengikuti apa yang ada dari dulu. Ikut menghormati saja nduk.
Pewawancara : jadi begitu buk, terimakasih buk atas waktunya silahkan melanjutkan pekerjaannya lagi buk assalamualaikum.
Ibu umroh       : iya nduk sama sma , waalaikumsalam.

Wawancara 2 :
Pewawancara  : Assalamualaikum mas, boleh saya bertanya sebentar?
Mas Soeb        : iya mbak mau tanya apa?
Pewawancara : saya mau tanya gimana pendapat mas mengenai adanya tradisi Jogetan mas?
Mas Soeb        : Ooo tradisi jogetan mba, kalau saya setuju sekali mbak, apalagi saya rasa acara tersebut tifdaklah merugikan malah banyak manfaatnya, kita jadi tambah dekat dengan Allah dengan acara syukuran seperti itu mbak, apalagi tradisi tersebut untuk menghormati sesepuh desa kita mbak agar desa kita aman dan tentram seperti itu kepercayaannya di desa kita mbak. Apalagi saya masih muda jelas harus ikut berpartisipasi agar tetap melestarikan budaya.
Pewawancara  : terimakasih mas atas jawabannya, wasalamualaikum.
Mas Soeb        : iya mbak sama sma, waalaikumslam.



Wawancara 3 :
Pewawancara  : maaf buk boleh bertanya sebentar?
Ibu Ngatini      : Iya mau tanya apa mbak?
Pewawancara   : saya mau tanya pendapat ibu mengenai acara Jogetan di desa Punden ini buk?
Ibu Ngatini      : oo acara Jogetan mbak.. menurut saya ya bagus mbak, bisa dibuat ajang silaturahmi juga, dariada sepi desa kita gak ada acara. Lagipula banyak mafaatnya kok mbak, sebagai rasa syukur kita kepada Allah.
Pewawancara  : Terimakasih buk atas jawabnnya.
Ibu ngatini       : iya mbak

Wawancara 4 :
Pewawancara : maaf mbak mengganggu sebentar boleh nanya sesuatu mbak ?
Mbak Barokah : iya mbak boleh mau tanya apa?
Pewawancara   : saya mau bertanya pendapat mbaknya mengenai tradisi Jogetan mbak.
Mbak barokah  : tradisi jogetan yang setahun sekali itu ya mbak, kalau saya si untuk acara selamatnnya saya setuju saja mbak, namun untuk acara jogetannya sendiri saya agak kurang begitu srek mbak. Soalnya biasanya yang pada ikut joget itu lho mbak para mas-masnya kadang suka nakal dan jail terhadap sindennya, kadang sampai nyium mbak. Saya jadi gak suka, apalagi kdang saya mengajak anak saya mbak.
Pewawancara  : oo sepert itu mbak, apa gak ada yang melerai mbak?
Mbak Barokah : mana ada yang peduli mbak, kadang hal seperti itu tidak terlalu diperhatikan mbak.
Pewawancara  : jadi gitu mbak, kalau begitu makasih ya mbak waktunya
Mbak Barkah  : iya mbak sama sama

Wawancara 5 :
Pewawancara  : assalamualaikum ibuk, boleh tanya sebentar?
Ibu Aminah     : iya gimana?
Pewawancara   : bagaiaman pendapat ibuk mengenai tradisi Jogetan dan sedekah bumi buk?
Ibu Aminah      : acara itu kalau saya gg setuju mbak, kalau saya pribadi buat apa mbak ada acara seperti itu, tapi kadang ya kalau saya di ajak ya ikut mbak tapi tidak pernah ikut mneyedekahkan hasil bumi saya, bagi saya sayang mbak. Bukannya saya pelit tapi buat pa kita dimakam lalu menyedekahkan hasil tanaman kita? Kadang saja setelah acara itu malah air disawah makin surut mbak. Saya juga kadang tidak mengikuti acara tersebut.
Pewawancara  : ooo begitu buk, terimkasih buk atas pendapatnya
Ibu Aminah     : iya mb



[1]Journal penelitian Efa ida Amaliyah, Makna dan Ritual Bersih Desa Serta Respon di Kalangan Masyarakat desa Sekoto, kecamatan pare, kabupaten kediri, diterbitakan oleh Universitas Gadjah mada, 2007.
[2] Abdullah bin Qasim Al-Wasyli, Menyelami samudera 20 Prinsip Hasan Al-Banna, Era intermedia, Karangasem, 2001, hlm 405
[3] Ibid,. hlm 406
[4] Purwadi, Upacara Tradisional Jawa, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006, hlm 4.
[5] Wawancara bersama Bapak Baidhowi pada hari Sabtu 08 Oktober 2016 di Desa Punden Jepara
[6] Hasil Wawancara bersama Bapak Baidhowi pada hari Sabtu 08 Oktober 2016 di Desa Punden Jepara
[7] Purwadi, Upacara Tradisional Jawa, hlm 22
[8] Hasil Wawancara bersama beberapa warga desa Punden Jepara pada hari Sabtu 08 Oktober 2016.
[9] Brian Morris, Antropologi Agama, AK Group, Yogyakarta, 2003, hlm 82
[10] Ibid,. hlm 117.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar