TRADISI JOGETAN DI DESA PUNDEN KECAMATAN PAKIS AJI KABUPATEN JEPARA
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah : Antropologi Agama
Dosen pengampu: Efa Ida Amaliyah, MA
Oleh :
1. DINA JUZ HAYYA (1430210001)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
NEGERI
(STAIN) KUDUS
JURUSAN USHULUDDIN / ILMU
AQIDAH
TAHUN 2016
A. Pendahuluan.
Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berhubungan dengan kebudayaan,
salah satu unsur penting dan universal kebudayaan adalah kesenian yang
merupakan hasil karya manusia dalam usahanya memenuhi kebutuhan terhadap rasa
keindahan. Kebutuhan rasa keindahan yang menimbulkan kesenangan dan kepuasan
hati tidak hanya saja dibutuhkan oleh satu atau sekelompok manusia, tetapi
merupakan kebutuhan setiap manusia, karena itu kesenian merupakan salah satu
kebutuhan manusia yang universal. Dengan kesenian pula dapat memberi
keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani.
Kebudayaan tidak lepas dari
masyarakat, kebudayaan adalah cara dan manifestasi kehidupan mahluk manusia,
kebudayaan adalah produk dari manusia. Manusia tidak semata – mata sebagai
individu tetapi sebagai anggota kelompok (homo sosial). Masyarakat merupakan
wadah dari kebudayaan tempat manusia mengaktualisasikan cipta, karya, rasa dan
karsanya. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang multi kultural yang memiliki
keragaman kebudayaan, contohnya keragaman adat istiadat. Kelestarian kebudayaan
ini perlu dijaga dengan baik karena merupakan suatu aset yang sangat berharga
dan sangat bernilai tinggi bagi kehidupan masyarakat. Salah satu kegiatan adat
istiadat biasanya tercermin dengan adanya suatu upacara yang dilakukan secara
rutin pada waktu tertentu. Salah satu kegiatan dalam adat istiadat adalah
kegiatan adat istiadat biasanya tercermin dengan adanya suatu upacara yang
dilakukan secara rutin pada waktu tertentu.
Salah satu kegiatan dalam adat
istiadat adalah ritual. Ritual adalah teknik, cara atau metode membuat suatu
kebiasaan menjadi suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat sosial
dan agama. Ritual bisa pribadi atau kelompok, wujudnya bisa berupa doa, tarian,
drama dan sebagainya. Ritual biasanya dilakukan di suatu tempat yang menurut
masyarakat itu sendiri merupakan tempat yang dianggap khusus dan dipercaya
dapat memberikan suatu berkah bagi mereka.
Dalam suatu daerah pasti ada yang
namanya ritual atas kepercayaan yang sudah ada sejak nenek moyang seperti
halnya kegiatan sedekah bumi, haul sesepuh daerah tersebut atau hanya sekedar
selametan di makam-makam para wali sebagai tanda syukur kepada Allah dan do’a
bersama agar desa tersebut selalu dalam lindungan Allah, rizki berlimpah, tanah
subuh, dan dijauhkan dalam segala marabahaya. Seperti halnya penelitian yang
dilakukan oleh peneliti pada kali ini di desa Punden kabupaten Jepara. Dimana
dalam desa tersebut ada acara rutinan setiap Tahunnya untuk memperingati haul
danyang desa tersebut, yaitu tradisi jogetan. Oleh karena itu pada kesempatan
kali ini penulis meneliti tentang tradisi jogetan di desa Punden Jepara.
Bagaimana proses tradisi jogetan tersebut dan bagaimana respon masyarakat
terhadap adanya ritual jogetan di desa punden tersebut.
B.
Pembahasan.
1.
Pengertian
Upacara Tradisional (Bersih Desa)
Bersih desa adalah suatu tradisi yang sudah ada dalam masyarakat. Makna
yang ada adalah makna kosmologi dan makna simbolik yaitu bagi warga masyarakat
bahwa bersih desa sarana untuk menghormati nenek moyang dengan mengingat dan
datang ke makam tiap tahun sebagai ungkapan kesungguhan sikap terhadap yang
”kudus” (danyang) sehingga sebagai bentuk kesungguhannya mereka membawa sesaji
dengan harapan bahwa keinginan atau hajat akan dikabulkan oleh Allah dengan
danyang sebagai perantara karena dianggap sebagai orang yang mempunyai
kelebihan sehingga lebih dekat dengan Allah. Meskipun demikian, dalam bersih
desa juga terjadi pergeseran makna ke arah kesantrian karena sekarang pada
pelaksanaannya unsur-unsur keislaman lebih dominan (hadrah, semaan Qur’an, dan
pengajian) dibanding unsur-unsur kejawen dan mistis. Selain mempunyai makna,
bersih desa juga mempunyai fungsi, yaitu sebagai transfer pendidikan dan ruang
integrasi. Fungsi transfer pendidikan yaitu mengenalkan tradisi yang sudah lama
untuk terus dilestarikan oleh kalangan anak muda agar mereka tahu bahwa di desa
ada danyang yang telah berjasa membangun desa. Sedangkan fungsi sebagai ruang
integrasi adalah saat berkumpul di semua acara dalam rangkaian ritual terjadi
kohesi sosial (silaturahim) dan integrasi tatkala suasana yang tercipta dengan
obrolan-obrolan ringan sehingga terjalinnya suasana santai yang memberi ruang
relasi antara mereka yang selama ini terpisah. [1]
Urf (tradisi) adalah hal yang dikenal
dan dijalani oleh masyarakat dalam kehidupan dan interaksi mereka, baik berupa
ucapan, tindakan, maupun meninggalkan sesuatu.
Menurut sebagian fuqaha, urf disebut dengan ‘adah (adat kebiasaan).
Karena itulah maka mereka mengatakan bahwa keduanya adalah nama untuk hal yang
dikenal, menjadi kebiasaan, dan dijalani oleh masyarakat dalam kehidupannya. Ia
terbagi menjadi beberapa bagian yaitu
Pertama, dari segi penamaan ia terbagi menjadi urf qauli (tradisi yang
bersifat ucapan) dan urf amali ( tradisi yang bersifat perbuatan. Urf qauli
misalnyakebiasaan masyarakat menggunakan kata walad (anak) untuk anak
laki-laki, tidak termasuk anak perempuan, meskipun secara bahasa ia digunakan
untuk keduanya.[2]
Diantaranya adalah Firman Allah SWT : “ Allah mensyariatkan bagimu tentang
(pembagian pisaka untuk) anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak laki-laki sama
dengan bagian dua anak perempuan (An nisa’ : 11) sedangkan Urf amali misalnya
kebiasaan masyarakat yang melakukan jual beli seperti serah terima tanpa
menggunakan pengucapan akad jual beli.
Kedua, dilihat dari segi keumuman dan kekhususannya dibagi menjadi urf
‘aam dan ‘urf khash. ‘urf ‘aam
(kebiasaan umum) adalah sesuatu yang biasa dilakukan masyarakat diseluruh
negara pada waktu tertentu. Misalnya, kebiasaan mereka menggunakan kamar mandi
umum tanpa ketentuan berapa lama di dalam kamar mandi dan berapa jumlah air
yang diunakan. Sedangkan ‘urf khash (kebiasaan khusus) adalah suatu kebiasaan
yang hanya dikenal disebagian wilayah. Misalnya kebiasaan sebagai penduduk Yaman
mendahulukan sebagian mahar dan menunda sebagian yang lain hingga mendekati
satu diantara dua hal, kematian atau perceraian.[3] Namun
yang dimaksud tradisi (kebiasaan) pada kali ini adalah kepercayaan dalam suatu
masyarakat akan adanya ritual-ritulan khususnya masyarakat Jawa yang masih
kental dengan tradisi kejawennya. Seperti adanya upacara-upacara tradisional.
Upacara tradisional merupakan salah satu wujud peninggalan
kebudayaan. Kebudayaan adalah warisan sosial yang hanya dapat dimiliki oleh
warga masyarakat pendukungnya dengan jalan mempelajarinya. Adapun cara atau
mekanisme tertentu dalam tiap masyarakat untuk memaksa tiap warganya
mempelajari kebudayaan yang didalamnya terkandung norma-norma serta nilai-nilai
kehidupan yang berlaku dalam satu pergaulan masyarakat yang bersangkutan.
Mematuhi norma serta menjunjung nilai-nilai itu penting bagi warga masyarakat
demi kelestarian hidup bermasyarakat. [4] seperti
halnya yang terjadi di desa punden Jepara yang masih melestarikan upacara
tradisional yang dinamakan “Jogetan”.
2.
Konsep dan Prosesi Tradisi
Jogetan di Desa Punden Jepara.
Desa Punden adalah suatu Desa yang berada di kecamatan Pakis Aji
Kabupaten Jepara. Di desa tersebut ada suatu tradisi yang unik setiap Tahunnya.
Kenapa dibilang unik karena tradisi tersebut bernama tradisi ”Jogetan”. Dimana
tradisi tersebut adalah tradisi untuk memperingati haul danyang dalam desa
tersebut sekaligus sedekah bumi. Mengapa disebut jogetan? Karena disela sela
upacara tradisional tersebut diselingi dengan acara Jogetan, yaitu berjoged
yang diiringi dengan tembang-tembang jawa lengkap dengan gamelan-gamelan dan
alat musik Jawa.
Tradisi jogetan dilaksanakan setiap hari senin pahing pada akhir
tahun Hijriyah bertepatan haul Danyang desa punden tersebut yaitu mbah madinah.
Kebanyakan di daerah lain apabila emperingati haul seseorang bertepatan dengan
tanggal kematian namun pada daerah Punden tersebut mereka punya perspektif
mereka sendiri yaitu bertepatan dengan hari kematianya yaitu diakhir tahun
Hijriyah jelas Bapak Baidhowi selaku warga yang saya wawancarai. Beliau
mengatakan tradisi tersebut sampai sekarang masih terlaksana Alhamdulillah dan
konsisten pada hari tersebut.[5]
Prosesi atau runtutan acara “Jogetan” tersebut adalah yang pertama
yaitu pada malam senin seblum hari H, di desa tersebut diadakan tahlilan
bersama yaitu di pelataran punden (makam mbah madinah) dilanjut dengan
pengajian sampai selesai yang melaksanakan acara ini adalah kepala desa
setempat namun untuk dana yaitu diperoleh dari iuran warga desa Punden
tersebut. Lalu besoknya pada saat hari H semua warga desa tersebut kumpul di
pelataran Punden (makam) pada jam 13.00 siang atau setelah dzuhur untuk acara
jogetnnya. Joget disini kata bapak baidhowi bukanlah berjoget ria musik dangdut
melainkan yaitu berjoget diiringi dengan tembang-tembang jawa lengkap dengan
alat musik jawa yaitu gamelan. Warga yang berjoget tidaklah semuanya hanya yang
berkenan saja serta warga yang lain memang disediakan tempat untuk duduk
lesehan dibawah tenda . Mereka yang tidak berkenan untuk joget hanya menyaksikan
saja.Biasanya hanya 2 atau 3 orang saja yang iku berjoget dan biasanya yang
ikut berjoget disebut dengan (Peton). Mengapa diadakan jogetan karena konon dulunya
ini merupakan tradisi yang smpai sekarang dilestarikan karena musik musik jawa,
nyanyian-nyanyian jawa merupakan hobi atau hal yang disukai oleh mbah madinah
dahulunya, maka dari itu masyarakat desa Punden sejak dulunya mengadakan
tradisi Jogetan tersebut agar tetap lestari sampai sekarang.
Setelah acara jogetan tersebut acara penutupnya yaitu dengan
selametan (sedekah bumi).[6] Slametan
adalah upacara sedekah makanan dan doa bersama yang bertujuan untuk memohon
keselamatan dan ketentraman untuk ahli keluarga yang menyelenggarakan. Biasanya
untuk hajatan keberangkatan naik haji ke tanah suci, keberangkatan yang mau
sekolah ke luar daerah, pendirian rumah baru, dan sebagainya.[7] Pada
desa Punden selmatan yang dilakukan adalah untuk rasa syukur dan meminta
perlindungan kepada Allah agar selamat di dunia dan terhindar dari bahaya.
Dimana para warga desa Punden tersebut sebelumnya sudah membawa
makanan berupa nasi dan lauk pauk unutuk di doakan bersama sama. Bagi setiap
warga yang mempunyai hasil bumi maupun ternak di himbau untuk membawanya bagi
yang sayur untuk disedekahkan dan bagi hewan ternak di doakan oleh sesepuh
setempat agar terhindar dari penyakit dan sebagainya. Semua hewan warga
dikalungi dengan kupat dan lepet (dalam istilah Jawa) lalu didongani. Sedangkan
sayur mayur warga untuk disedekahkan sebagai rasa syukur masyarakat atas nikmat
yang telah di dapat. Mereka yang sudah membawa makanan berupa nasi dimakan
bersama sama setelah di slameti atau di doakan. Dimana semua upacara
tradisional Jogetan bertujuan untuk meluapkan rasa syukur warga atas segala
rizki yang berlimpah serta berdo’a untuk keselamatan desa Punden tersebut.
3.
Respon Masyarakat Terhadap Tradisi Jogetan di Desa Punden jepara.
Dalam suatu kehidupan bermasyarakat pasti akan ada hubungan atau
sikap perbedaan pendapat, karena hidup dalam bermasyarakat adalah kita hidup
berrsama dalam segala perbedaan. Tentu dalam setiap acara atau tradisi di
sebuah desa pasti lah warganya ada yang setuju dan ada yang tidak setuju semua
hal yang wajar asalkan tidak merusak suasana atau acara yang telah berlangsung.
Saya sudah mewawancarai beberapa warga di desa Punden Jepara mengenai adanya
tradisi Jogetan tersebut. Ada beberapa yang setuju dan ada beberapa orang yang
tidak setuju. Namun kebanyakan dari mereka adalah setuju karena itu tidaklah
berpengaruh negatif bagi warganya. Mereka yang setuju beralasan bahwa hal tersebut
sangat baik, dan juga menurutnya tidaklah negatif bagi warganya karena memang
tradisi tersebut adalah bentuk rasa syukur mereka kepada Allah dan menghormati
danyang tersebut yang dulu mbahu rekso desa tersebut. Acara itu pun dilakukan
setahun sekali dan tidak masalah bagi mereka, mereka berkata hal itu juga bisa
menjadi ajang silaturahim antara warga satu dengan warga lain agar tejalin ke
akraban dan kebersamaan dengan sesama warga desa Punden yang jarang berkumpul
bersama seperti itu.
Ada juga warga yang tidak setuju dengan tradisi tersebut ada yang
beralasan bahwa mereka enggan untuk menyedekahkan sebagian hasil bumi mereka
ada juga yang malas. Ada juga warga yang beralasan bahwa tidak suka dengan
acara Jogetan tersebut karena banyak madharatnya tegasnya, beliau mengatakan
bahwa biasanya dalam tradisi jogetan tersebut seringkali ada warga yang ikut
berjoget berbuat tiak menyenangkan kepada sindennya, sampai ada yang nekat
menciumnya ini dipandang tidak baik baginya, apalagi acara tersebut banyak anak-anak
yang melhat. [8]
4.
Teori
Para Tokoh Antropologi.
Tokoh yang pertama yaitu Weber, menurutnya, pendefinisian fenomena
yang kompleks semacam agama hanya dapat dilakukan melalui kesimpulan dari suatu
kajian. Tetapi dia menyatakan bahwa keyakinan pada yang superanatural adalah
fakta universal yang ditemukan dalam seluruh bentuk masyarakat awal. Namun
demikian, agama kesukuan yang sekalipun “ relatif rasional”, tetapi menurutnya
pada dasarnya masih bersifat magis, ritualistik, dan diorientasikan pada dunia.
Bentuk-bentuk agama “dalam tahap permulaan (elementer)” menurutnya berfokus
pada persoalan keduniaan: kesehatan, menurunkan hujan, dan kepemilikan. Maka,
tulisnya “ perilaku atau pemikiran keagamaan atau magis tidak bisa dilepaskan
dari rangkaian perilaku keseharian yang memiliki tujuan, khususnya karena akhir
dari aktifitas keagamaan dan magis pada dasarnya adalah tujuan ekonomi”. [9]
Tokoh yang kedua yaitu Spencer, dia menyimpulkan bahwa “penyembahan
terhadap leluhur merupakan akar bagi setiap agama” dengan mengacu pada kekayaan
materi etnografis dia memperlihatkan bahwa keyakinan terhadap roh orang yang
telah meninggal merupakan keyakinan universal, berbeda halnya dengan fetisisme.
Bahkan dia menyatakan bahwa keyakinan totemik merupakan suatu bentuk
penyimpangan dari penyembahan terhadap para leluhur. [10]
C.
Kesimpulan
Dari pemaparan diatas kita tahu
bahwa dalam suatu kehidupan masyarakat pasti ada suatu tradisi dari nenek
moyang yang masih terlaksana sampai sekarang. Tradisi dalam suatu daerah
biasanya ditujukan untuk sesepuh atau nenek moyang desa tersebut. Seperti
halnya Tradisi Jogetan yang ada di Desa Punden jepara. Tradisi tersebut adalah
ritual untuk memperingati haul danyang desa Punden tersebut, ada sedekah bumi
dan Jogetanya. Jogetan dilakukan karana meneruskan tradisi atau hobi sang
danyang yaitu mbah madinah agar tetap lestari sampai sekarang. Setelah itu
mereka mengadakan selmatan atu sedekah bumi bersama-sama. Mereka mebawa hsil
bumi mereka untuk disedekahkan dan hewan ternak untuk didoakan agar terhindar
dari penyakit.semua itu mereka lakukan untuk ungkapan rasa syukur kepada Allah
dan agar diberi keselamat dan terhindar dari bahaya serta selalu dalam
lindungan Allah.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah bin Qasim Al-Wasyli, 2001, Menyelami samudera 20 Prinsip Hasan
Al-Banna, Karangasem, Era
intermedia.
Purwadi, 2006, Upacara
Tradisional Jawa, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Wawancara bersama Bapak Baidhowi pada hari Sabtu 08 Oktober 2016 di
Desa Punden Jepara.
Brian Morris, 2003, Antropologi Agama, Yogyakarta, AK Group.
Journal penelitian Efa ida Amaliyah, Makna dan Ritual Bersih
Desa Serta Respon di Kalangan Masyarakat desa Sekoto, kecamatan pare, kabupaten
kediri, diterbitakan oleh Universitas Gadjah mada, 2007.
LAMPIRAN 1
Wawancara bersama narasumber Sabtu, 08 Oktober 2016 di Desa Punden
Jepara
Narasumber : Bapak Baidhowi
Pewawancara : Dina Juz Hayya
Pewawancara :
Assalamualaikum Wr Wb
Narasumber :
Waalaikumsalam Wr Wb. Ada yang bisa saya bantu dik?
Pewawancara : maaf
menggangu waktunya sebentar pak saya dari desa sebelah yaitu desa Lebak ingin menanyakan beberapa
hal dengan bapak, apakah bapak bisa membantu?
Narasumber : Iya dik
silahkan, mau tanya tentang apa?
Pewawancara : saya mau
bertanya mengenai Tradisi Jogetan yang ada di desa bapak, untuk keperluan tugas
kuliah.
Narasumber : ooo itu,
iya silahkan dek insyaallah akan saya jwab sepengetahuan saya.
Pewawancara : iya pak
makasih. Pertma saya mau bertanya, kapan sebenarnya waktu pelaksanaan tradisi
Jogetan tersebut pak ?
Narasumber : tradisi
iu dilaksanakan setiap satu tahun sekali, tepatnya pada hari senin pahing pada
akhir bulan hijriyah.
Pewawancara : lalu
kenapa harus pada hari itu pak?
Narasumber : karena
pada hari itu adalah bertepatan dengan hari sedo.nya sesepuh atau yang mbahu
rekso desa Punden ini dik, yaitu beliau Mbah Madinah. Karena orang-orang itu
persepsinya beda dik ada yang haul bertepatan dengan tanggal atau bulan lahir,
namun di desa kita bertepatan dengan hari lahir di akhir tahun hijriyah.
Pewawancara : oooo
seperti itu, lalu bagaimana pak prosesi acaranya?
Narasumber : pada
malam seninnya diadakan tahlilan setelah tahlilan ada pengajian, lalu besoknya
habis dzuhur Jogetan untuk melestarikan budaya dan acara penutupnya dengan
selamatan atau sedekah bumi.
Pewawancara : lalu darimanakan dana yang digunakan pak?
Narasumber : semua
dana tersebut dari iuran warga dik.
Pewawancara : lalu
bagaimana dengan jogetan itu pak? Apakah dangdut kah? Atau bagaimana pak?
Narasumber : bukan
dek jogetan tersebut bukanlah joget oleh para biduan atau semacam musik
dangdut, namun penyanyinya adalah sinden dan diiringi dengan gamelan-gamelan.
Konon dulu ceritanya hal tersebut adalah hobi atau kesukaan mbah madinah oleh
karena itu tradisi Jogetan tersebut dilestarikan hingga sekarang. Saat acara
pun warga yang ingin berjoget boleh berjoget, sedangkan yang tidak boleh
duduk-duduk ditenda. Sedangkan orang yang ikut berjoget disebut dengan (peton).
Pewawancara : Lalu acara yang terakhir adalah selamatan
dan sedekah bumi, itu baaimana prosesnya pak?
Narasumber : untuk
yang acara terakhir sebagai penutup, biasanya saat acara warga diminta untuk
membawa nasi dan lauk pauk untuk di doakan dan dimakan bersama-sama. Sedangkan
warga yang mempunyai hasil bumi seperti buah, sayur disedekahkan dan yang
mempunyai binatang ternak di bawa dan dikalungi dengan ketupat lepet untuk
didoakan supaya terhindar dari segala macam penyakit.
Pewawancara : apakah
setelah itu sudah selesai acaranya pak? Lalu apa tujuan diadakannya tradisi
tersebut bagi warga?
Narasumber : ia dek
acaranya hanya sampai sore setelah itu selesai. Tujuan diadakannya tradisi tersebut
selain untuk melestarikan budaya yang telah ada di masyarakat, itu juga
merupakan bentuk rasa syukur para warga kepada Allah SWT karena sudah diberi
rezeki yang melimpah dan supaya selamat dan dijaukan dari marabahaya.
Pewawancara : oo seperti
itu pak, kalau begitu saya mau mengucapkan terimakasih atas waktu bapak dan
informasinya, maaf telah mengganggu waktunya pak.
Narasumber : iya dik
sama sama. Semoga ilmunya ini bermanfaat.
Pewawancara : iya pak
terimakasih. Wassalamualaikum Wr Wb
Narasumber :
Waalaikum salam Wr Wb.
LAMPIRAN II
Wawancara bersama beberapa warga mengenai pendapat mereka tentang
adanya Tradisi Jogetan di Desa Punden Jepara.
Wawancara 1 :
Pewawancara : Assalamualaikum
buk, maaf mengganggu sebeentar saya mau bertanya.
Ibu Umroh : iya nduk, mau tanya apa?
Pewawancara : saya hanya
ingin bertanya satu pertanyaan kira kira bagaimana pendapat ibu mengenai adanya
Tradisi jogetan di desa ini bu?
Ibu Umroh : kalau saya
sih setuju saja nduk, apalagi tradisi tersebut sudah ada, jadi saya hanya
mengikuti apa yang ada dari dulu. Ikut menghormati saja nduk.
Pewawancara : jadi begitu
buk, terimakasih buk atas waktunya silahkan melanjutkan pekerjaannya lagi buk
assalamualaikum.
Ibu umroh : iya nduk sama sma , waalaikumsalam.
Wawancara 2 :
Pewawancara : Assalamualaikum mas, boleh saya bertanya
sebentar?
Mas Soeb : iya mbak mau tanya apa?
Pewawancara : saya mau tanya
gimana pendapat mas mengenai adanya tradisi Jogetan mas?
Mas Soeb : Ooo tradisi
jogetan mba, kalau saya setuju sekali mbak, apalagi saya rasa acara tersebut
tifdaklah merugikan malah banyak manfaatnya, kita jadi tambah dekat dengan
Allah dengan acara syukuran seperti itu mbak, apalagi tradisi tersebut untuk
menghormati sesepuh desa kita mbak agar desa kita aman dan tentram seperti itu
kepercayaannya di desa kita mbak. Apalagi saya masih muda jelas harus ikut
berpartisipasi agar tetap melestarikan budaya.
Pewawancara : terimakasih mas atas jawabannya,
wasalamualaikum.
Mas Soeb : iya mbak sama sma, waalaikumslam.
Wawancara 3 :
Pewawancara : maaf buk boleh bertanya sebentar?
Ibu Ngatini : Iya mau tanya apa mbak?
Pewawancara : saya mau
tanya pendapat ibu mengenai acara Jogetan di desa Punden ini buk?
Ibu Ngatini : oo acara
Jogetan mbak.. menurut saya ya bagus mbak, bisa dibuat ajang silaturahmi juga,
dariada sepi desa kita gak ada acara. Lagipula banyak mafaatnya kok mbak,
sebagai rasa syukur kita kepada Allah.
Pewawancara : Terimakasih buk atas jawabnnya.
Ibu ngatini : iya mbak
Wawancara 4 :
Pewawancara : maaf mbak
mengganggu sebentar boleh nanya sesuatu mbak ?
Mbak Barokah : iya mbak boleh mau tanya apa?
Pewawancara : saya mau
bertanya pendapat mbaknya mengenai tradisi Jogetan mbak.
Mbak barokah : tradisi jogetan
yang setahun sekali itu ya mbak, kalau saya si untuk acara selamatnnya saya
setuju saja mbak, namun untuk acara jogetannya sendiri saya agak kurang begitu
srek mbak. Soalnya biasanya yang pada ikut joget itu lho mbak para mas-masnya
kadang suka nakal dan jail terhadap sindennya, kadang sampai nyium mbak. Saya
jadi gak suka, apalagi kdang saya mengajak anak saya mbak.
Pewawancara : oo sepert itu mbak, apa gak ada yang
melerai mbak?
Mbak Barokah : mana ada yang peduli mbak, kadang hal seperti itu tidak
terlalu diperhatikan mbak.
Pewawancara : jadi gitu mbak, kalau begitu makasih ya
mbak waktunya
Mbak Barkah : iya mbak sama sama
Wawancara 5 :
Pewawancara : assalamualaikum ibuk, boleh tanya sebentar?
Ibu Aminah : iya gimana?
Pewawancara : bagaiaman
pendapat ibuk mengenai tradisi Jogetan dan sedekah bumi buk?
Ibu Aminah : acara itu
kalau saya gg setuju mbak, kalau saya pribadi buat apa mbak ada acara seperti
itu, tapi kadang ya kalau saya di ajak ya ikut mbak tapi tidak pernah ikut
mneyedekahkan hasil bumi saya, bagi saya sayang mbak. Bukannya saya pelit tapi
buat pa kita dimakam lalu menyedekahkan hasil tanaman kita? Kadang saja setelah
acara itu malah air disawah makin surut mbak. Saya juga kadang tidak mengikuti
acara tersebut.
Pewawancara : ooo begitu buk, terimkasih buk atas
pendapatnya
Ibu Aminah : iya mb
[1]Journal
penelitian Efa ida Amaliyah, Makna dan Ritual Bersih Desa Serta Respon di
Kalangan Masyarakat desa Sekoto, kecamatan pare, kabupaten kediri,
diterbitakan oleh Universitas Gadjah mada, 2007.
[2]
Abdullah bin
Qasim Al-Wasyli, Menyelami samudera 20 Prinsip Hasan Al-Banna, Era
intermedia, Karangasem, 2001, hlm 405
[3] Ibid,. hlm 406
[4]
Purwadi, Upacara
Tradisional Jawa, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006, hlm 4.
[5] Wawancara
bersama Bapak Baidhowi pada hari Sabtu 08 Oktober 2016 di Desa Punden Jepara
[6]
Hasil Wawancara
bersama Bapak Baidhowi pada hari Sabtu 08 Oktober 2016 di Desa Punden Jepara
[7] Purwadi, Upacara
Tradisional Jawa, hlm 22
[8] Hasil
Wawancara bersama beberapa warga desa Punden Jepara pada hari Sabtu 08 Oktober
2016.
[9] Brian
Morris, Antropologi Agama, AK Group, Yogyakarta, 2003, hlm 82
[10] Ibid,.
hlm 117.