Jadi menurut beberapa referensi yang saya baca bahwa awal kenapa mitos tersebut ada dikarenakan adanya yang melatarbelakaninya diantaranya adalah konflik antara sunan kudus dan Ratu kalinyamat jepara, jadi seperti ini ceritanya.
MAKALAH DINA JUZ HAYYA SEMESTER 4
Konflik antara sunan kudus dan ratu alinyamat
sebenarnya dikarenakan oleh perebutan kekuasaan demak. Konflik ini bermula
karena pemberontakan yang dilakukan oleh arya penangsang murid dari sunan
kudus. Diceritakan pada saat itu arya penangsang mengutus utusannya untuk
membunuh sunan prawoto atas izin sunan kudus karena sunan prawoto sudah
dianggap sebagai penghianat karena dhulu telah membunug ayah arya penangsang. [1]
Alasan utama arya penangsang membunuh
sunan prawata adalah karna ayah arya penangsang telah dibunuh oleh sunan
prawata. Ketika baru saja pulang jum.atan, ia dihadang dijalan oleh utusan
sunan prawata, bernama surayata. Ki surayata lalu dibunuh oleh seorang sunan
teman ayah arya jipang. Demikianlah kisah kematian ayah arya jipang. Sunan
prawata punya saudara perempuan, bernama ratu kalinyamat. Ia mendendam atas
kematian saudara laki-lakinya. Ia lalu berangkat ke kudus dengan suaminya, hendak
meminta keadilan sunan kudus. Di hadapan sunan kudus, ia mengutarakan
permintaannya itu. Jawaban sunan kudus “ kakangmu itu sudah hutang pati terhadap
arya penangsang. Maka kematiannya itu adalah tebusannya. “ratu kalinyamat
mendengar jawaban sunan kudus demikian, sangat sakit hatinya. Ia lalu kembali
pulang. Di jalan ia dirampok utusan arya penangsang. Suami ratu kalinyamat
dibunuh. Ratu kalinyamat sangat menderita sebab sebab baru saja kematian
saudaranya, kini malah suaminya menyusul, jadi sangat prihatin.
Ratu kalinyamat lalu bertapa telanjang di
gunug danaraja. Sebagai penutup tubuhnya hanyalah rambutnya yang digerai. Ratu
kalinyamat bersumpah, tidak mau memakai kain selama hidup, kalau arya jipang
belum mati, dan janji siapa yang bisa membunuh arya jipang, ratu kalinyamat
akan mengabdi kepadanya dan semua miliknya akan diserahkan semua. Alkisah sunan
kudus sedang bermusyawarah dengan arya penangsang. Sunan kudus berkata “
kakangmu prawata dan kalinyamat sekarang sudah mati dan istrinya menangis-nangis.
Akan tetapi lega hatiku, kalau kamu belum bertahta menjadi raja tanah jawa. Dan
kalau masih ada adikmu sultan pajang, kukira kamu tidak bisa jadi raja sebab
itu yang menyulitkan”. [2]
Arya penangsang, setelah mendengar laporan
kajineman (polisi rahasia), sangat susah hatinya. Ia lalu memberi tahu sunan
kudus, kalau urusannya membunuh sultan pajang tidak berhasil “kalau kanjeng
sunan berkenan, sebaiknya sulttan pajang saja yang sebaiknya diperintah kesini,
dengan alasan akan diajak bermusyawarah tentang ilmu. Kalau sudah sampai disini
mudahlah itu. “ sunan kudus menuruti permohonan arya penangsang. Ia lalu
mengirim utusan untuk memanggil sultan pajang. Sultan pajang gugup menerima
perintah sunan kudus karena artinya diperintah oleh guru. Dia kemudian bersiap-siap.
Pada suatu malam, sultan pajang duduk
berbincang-bincang dengan ki pemanahan serta ki panjawi. Ki pemanahan berkata,
“saya mendengar kabar, setelah wafatnya sunan prawata dan kakangnya, kangmbok
ratu kalinyamat sangat prihatin, dan kemudian bertapa di gunung danaraja sambil
telanjang. Sumpahnya, ia tidak mau berkain, kalau arya penangsang belum mati.
Kalau adimas berkenan, mari kita menjenguknya kesana.” Sultan pajang sepakat
dengan usulan ki pemanahan. Sultan pajang lalu pergi ke gunung danaraja pada
waktu malam hari. Yang mengikuti adalah pemanahan, ki panjawi, dan ketiga raden
ngabehi loring pasar. Setibanya gununga danaraja, mereka terhenti di regol.
Para puteri pejaga melaporkan kepada ratu
kalinyamat, kalau sultan pajang ingin bertemu. Kata ratu kalinyamat, “segera
panggilah kemari, akan tetapi beriytahu terlebih dahulu, kalau aku tidak bisa
menemui langsung. Persilahkan duduk di luar gerbang saja.” Dayang yang
diperintahkan tadi segera menyampaikan pesan itu kepada sultan pajang. Sultan pajang
dan ketiga kawannya lalu masuk, duduk diluar gerbang. Ratu kalinyamat berkata “
adimas prabu, apa maksut kedatanganmu?” sultan pajang menjawab” mbakyu saya
kesini karena saya mendengar berita, kalau mbakyu meninggalkan negeri, bertapa
di gunung danaraja serta tidak berkain. Apakah yang menjadi kesusahan hati
mbakyu? Adapun kematia kakang kaliyamat, kan sudah takdir allah. Kalau boleh,
hilangkanlah kesedihan mbakyu yang berlebihan itu.” Ratu kalinyamat berkata “
aku mengucapkan terimakasih, adimas atas nasehatmu kepadaku. Akan tetapi
sumpahku sudah terlanjur. [3]Bagaimana?
Aku tidak memakai kain, kalau si arya jipang belum mati. Meskipun aku sampai
mati, kujalani. Malah kedatanganmu ke sini membuatku senang sekali. Karena aku
perempuan, siapa yang akan kumintai tolong menghilangkan keprihatinanku, kalau
adimas bisa membunuh si arya penangsang maka kalinyamat dan prawata, juga
seluruh harta bendaku semua kuserahkan kepada adimas, serta aku numpang hidup
kepadamu.” Sultan pajang berkata “mbakyu, saya takut melawan arya jipang sebab
ia sangat sakti dan kuat.” Ratu kalinyamat berkata “adimas, siapa yang bisa
mendengar tangis mbakyumu ini, kecuali kamu?apakah kedatanganmu kesini tak
berguna.” Ki pemanahan berbisik-bisik kepada sultan pajang, “ kalau menurut saya,
sebaiknya dipikir dahulu. Adimas prabu sebaiknya sanggupi dulu, nanti malam
kita bicarakan lagi. Besok pagi adimas sultan kemari lagi.” Sultan pajang
menurut, ia lalu berkata “ baiklah mbakyu, aku akan pikirkan semalam ini.” Ratu
kalinyamat berkata “ iya, adimas besok kembalilah kesini. Benar lho, aku
tungg-tunggu.” Sultan pajang lalu pamit kembali ke pasanggrahan. Ki pemanahan
mengikuti sultan pajang mundur. Akan tetapi, kemudian ia kembali menemui ratu
kalinyamat, lalu ditanyai ,” adimas pemanhan, ada apa lagi, kok kesini lagi?”
ki pemanahan berkata “ mbakyu saya ada gagasan untuk sampeyan, tentang cara
meminta tolong pada kanjeng sultan pajang. Ketika tadi saya melihat dua dayang
puteri sampeyan yang cantik-cantik itu, besok pagi suruhlah berdandan, kalau
sultan pajang datang kesini, suruhlah mereka dekat digerbang ini. Karena, watak
sultan pajang , kalu melihat perempuan cantik, ia akan timbul keberanian. Pasti
lalu menyanggupi untuk membunuh arya jipang. Apalagi kalau puteri tadi sampeyan
berikan. Hanya ini usul saya sehingga saya kembali kesini.” Ratu kalinyamat
tersenyum dan berkata “ terima kasih adimas, atas gagasanmu serta akan
kuturuti.” Ki pemanahan lalu pamit kembali ke pesanggrahan.[4]
Esoknya sultan pajang bermusyawarah dengan
ki panjawi dan pemanahan. Sultan pajang bermusyawarah dengan ki panjawi dan ki
pemanahan. Sultan pajang berkata “ bagaimana menurutmu kakang, tentang
permintaan tolong kakang saya itu? Ki pemanahan menjawab “ sebaiknya disanggupi
sebab yang berkewajiban menolong hanya sampeyan. Sampeyan pasti tidak
kekurangan akal. Abdi sampeyan para bupati ditanyai, siapa yang bisa membunuh
arya jipang, sampeyan ganjar negeri dan raja brana. Mustahil, kalau tidak ada
yang sanggup. “ mendengar gagasan pemanahan, sultan pajang sangat lega hatinya,
lalu ia berkata “ kakang nanti malam kita kembali, kasihan kakangmbok, agar
berhenti kesusahannya.”
Setelah malam mulai jatuh, mereka kembali
menuju gunung danaraja. Setibanya disitu, sultan pajang kaget melihat dua
puteri cantik, duduk dikiri kanan gerbang. Sultan sangat terpesona hatinya. Ia
lalu menoleh dan bertanya kepada ki pemanahan “ kakang, dua orang itu istri
siapa, kok cantik sekali. Saya belum pernah melihat. “ ki pemanahan berkata “
saya kira selirnya kakang kalinyamat dulu. Jangankan hanya puteri, meskipun
yang lain pasti diberikan, kalu adimas prabu bisa memenuhi permintaannya.
Ratu kalinyamat kemudian bertanya kepada
sultan pajang. “bagaimana, dimas, kedatanganmu kemari apakah sudah memikirkan
apa permintaanku kemarin?” sultan pajang berkata “ mbakyu, sampeyan jangan
khawatir. Enakkan saja hati sampeyan. Saya sanggup membunuh arya penangsang.
Akan tetapi dua puteri ini saya minta, itu lho yang duduk dekat gerbang. “ ratu
kalinyamat berkata “ adimas, jangankan dua orang puteri itu, negara kalinyamat
dan prawata dan kekayaanku semua kuberikan. Asalkan kamu memenuhi
permintaanku.”
Dua puteri tadi lalu diberikan, disuruh
duduk dekat sultan. Keduanya lalu maju, duduk menduduk. Sebenarnya, dua puteri
ini sudah bersuami. Yaitu kajineman di prawata. Setelah menerima dua puteri
itu, lalu sultan pajang berkata, “mbakyu, jangan khawatir sampeyan. “baik,
adimas siapa yang kupercaya lagi selain dirimu?”
Sultan pamit pulang ke pesanggrahan,
membawa dua orang puteri. Adapun kajineman yang punya istri tadi waktu malam
hari berniat membunuh sultan pajang, dengan membawa teman-teman dan mudah panas
hati. Begini saja, arya penangsang itu kirimilah surat tantangan. Suruhlah ia
datang sendiri, jangan membawa pasukan. Kalau sudah datang, lalu dikeroyok dengan
saudara sampeyan semua. Mesti mati, kalau kamu seyuju dengan usul saya ini.
Besok pagi, ayo menghadap sultan.” Ki pemanahan dan ki panjawi menurut usulan
itu.
Esok paginya, empat orang itu lalu
menghadap. Para bupati menteri lengkap. Sultan bertanya kepada bupati, “ siapa
yang sanggup menghadapi dan membunuh arya penangsang?”
Kata para bupati, tidak ada yang sanggup.
Ki pemanahan berkata “saya dan adimas penjawi sanggup membunuh arya jipang.
Adimas prabu saksikanlah dari kejauhan saja. Yang menghadapi perang saya
sendiri dan saudara saya. Apabila adimas prabu kelihatan oleh arya penangsang,
mesti hanya adimas prabu yang dikejar, tidak melayani orang banyak.” Mendengar
ksanggupan itu, sultan pajang sangat gembira berkata, “syukur kakang, kakang
sendiri yang sanggup membunuh arya jipang. negeri pati dan mataram untuk
kakang. Renvanamu bagaimana?” ki pemanahan berkata “ besok pagi pasukan pajang
semua bersiaplah. Akan tetapi, di pesanggrahan saja. Saya dan saudara saya
sendiri yang maju perang. “ sultan menuruti kata ki pemanahan.
Pagi harinya, ki pemanahan dan ki panjawi,
ketiga ki juru martani, keempat raden ngabehi loring pasar serta sekeluarganya
semua, kira-kira dua ratus, berangkat ke sebelah barat sungai, sambil bersikap
waspada. Ki pemanahan dan ki panjawi, dan ki juru lalu pergi tanpa pasukan,
menuju tempat para pencari rumput, mencari tukang rumput. Ada seorang pekatik
atau tukang rumput satu orang yang terpisah. Lalu ditanyai oleh ki pemanahan, “
kamu ini tukang rumputnya siapa?” ki pekatik menjawab “ saya bekerja untuk
adipati jipang. Sayalah yang mencarikan rumput untuk kudanya yang bernama gagak
rimang.[5]
Setelah memastikan bahwa tukang rumput
adalah abdi arya penangsang, ki penjawi lalu segera menangkapnya. Tukang rumput
tak bisa berkutik. Ki pemanahan berbicara sambil tersenyum, “ kisanak, saya
minta maklum kamu, telinga kok diminta. Lebih baik paduka ambil keranjang dan
pisau sabit ini, pasti saya berikan.”
Kalau kamu tidak memberi, ya saya beli.
Berapa harganya?” kata ki pemanahan,” meskipun paduka beli, tidak saya berikan.
Saya tidak kepingin uang. Seumur saya belum pernah melihat orang menjual
telinga.” Pilih mana, kusobek telingamu?” ancam ki pemanahan.
Pekatik tidak bisa mengelak. Ia lalu
menyerahkan telinganya. Ia kemudian diberi uang lima belas real. Telinganya
terpotong sebelah. Yang sebelah lagi digantungi surat tantangan, disuruh
menyampaikan kepada tuannya. Ki pekatik kemudian lari pulang ke timur sungai.
Setibanya di pesanggrahan, ia menyeruduk para penggawa arya penangsang yang sedang
menghadap. Patih jipang yang bernama ki mataun, lantas ditanyai. Pekatik
meronta ingin segera masuk mengahadap gusti arya penangsang.
Waktu itu, arya penangsang sedang makan.
Ia kaget mendengar ramai-ramai di luar. Ia menyuruh orang untuk memanggil ki
mataun. Arya penangsang berkata “ mataun, ada apa ramai-ramai di luar itu?”
“bendara, silahkan paduka menyelesaikan
makan dahulu. Nanti saja saya berkata sebab berita tidak baik,” jawab ki matau.
Ki mataun berkata demikian sebab tahu watak gustinya, kalau sangat berangasan
dan nekat. Kalau sudah tahu berita tadi, pasti ia kemudian berangkat,
meninggalkan pengiring. Arya jipang berkata, “ mataun, segera katakan kepadaku,
jangan takut-takut.”
Ki mataun belum mau berkata, diam saja.
Tiba-tiba pekatik tadi lepas dari pegangan para prajurit, lalu menyelonong
masuk, mengahadap di depan sang adipati. Arya jipang bertanya, “ kamu kenapa,
kok berlumuran darah?” ki mataun berkata sambil menyembah, “inilah yang
menyebabkan keributan diluar tadi, tukang rumput paduka, dipotong telinganya,
sebelah dan dikalungi surat.”
Surat lalu diambil, diterima tangan kiri.
Tangan kanan masih memegang nasi. Surat dibaca. Bunyinya.” Pahamilah
suratku. Dari sultan pajang kepada arya penangsang. Kalau kamu nyata-nyata
jantan dan pemberani, ayo perang satu lawan satu, jangan membawa prajurit.
Seberangilah sungai. Aku di sebelah barat sungai sekarang. Aku tunngu kamu di
situ.
Sesudah membaca surat itu, arya penangsang
sangat marah. Darahnya mendidih. Nasi sebakul dipukul sambil mengepal nasi.
Meja panjang terbelah jadi dua. Arya penangsang segera berdiri, memakai busana
perang, serta menyuruh agar kudanya yang bernama gagak rimang diambil. Ia
kemudian naik kuda sambil membawa tombak bernama dandang musuh. Ki mataun
berkata “ bendara, tunggulah prajurit sebentar. Kalau buru-buru paduka bisa
celaka.”
Arya penangsang tidak mendengarkan ki
mataun, malah semakin marah saja. Seperti disikapi, kemudian ada saudara muda
arya penangsang, bernama arya mataram. Ia segera mendekati dan berkata,” sudah
diam, jangan cerewet. Aku tidak takut. Sudah semestinya orang perang itu
dikerubut banyak orang.” Adiknya berkata banyak-banyak. Arya penangsang
menghardik keras, “ pergi sana! Aku tidak mengajak kamu sebab kamu saudaraku
lain ibu, mesti tidak pemberani seperti aku.” Arya penangsang melecut kudanya,
lari sendirian. Arya mataram kembali dengan sakit hati. Ki mataun mengejar,
tapi tidak terkejar sebab sudah tua dan punya sakit jantung. Perjalanan arya
jipang sudah sambai sebelah timur bengawan sore.[6]
Mitos orang zaman malam, kalu orang
berhadap-hadapan hendak berperang, siapa yang menyebrang sungai pasti kalah
perangnya. Adapun ki pemanahan, dan ki panjawi, ketiga ki juru, dan keempat
raden ngabehi loring pasar serta prajuritnya semua sudah menunggu di sebelah
barat dekat sungai. Mereka melihat arya penangsang datang sendirian. Orang
sesela suka hatinya. Arya penangsang berteriak,” hai, orang pajang yang membuat
layang tantangan kepadaku? Cepat menyebranglah ketimur. Kroyoklah aku! Itu
kesukaanku, perang dikroyok orang banyak,” orang sesela menjawab, “ gusti kami
sultan pajang yang membuat surat kepadamu. Klau kamu memang pemberani, cepat
menyebranglah ke barat! Aku tandingi satu lawan satu.”
Arya penangsang mendengar sesumbar
demikian, telinganya seperti disobek-sobek, darahnya mendidih. Kudanya segera
digebrag serta dicermati, disebrangkan sungai. Kuda lalu menyebrangi sungai.
Punggungnya tidak basah. Kuda arya penangsang sudah hampir sampai tepi sungai
barat. Lalu dihujani senjata oleh sesela. Ada tombak, ada panah, akan tetapi
tidak ada yang kena.
Kuda arya penangsang kemudian di cemeti,
melompat dari air. Sampai di tengah barisan orang sesela. Banyak orang yang
roboh, diterjang oleh kuda arya penangsang. Kuda lalu menerjang dan menggigit.
Orang sesela banyaka yang terluka dan mati. Arya penangsang marah ambil
berkata.” Si karebet ada dimana, kalau berani lawan aku! Mana batang hidungnya
tidak kelihatan?” arya penangsang marah-marah, berkitar-kitar sultan pajang.
Arya penangsang kemudian dikeroyok orang
banyak, dilempari tombak dari kiri, kanan, depan belakang. Arya penangsang
teruka lambung kanannya. Ususnya keluar, lau disampirkan dihulu keris, serta
semakin marah. Prajurit sesela semakin banyak yang terluka dan mati. Raden
ngabehi loring pasar segera maju menerjang arya penangsang dengan naik kuda
yang masih muda, sambil memegang tombak kyai plered. Dikanannya ki pemanahan,
sebelah kiri ki panjawi, ki juru segera melepaskan kuda betina. Kuda itu lalu
berlari-lari, menjingkat-jingkat meloncat-loncat, dan menabrak-nabarak. Kuda
yang dinaiki raden ngabehi malah lari menjauh. Raden ngabehi hampir saja jatuh,
lalu ditarik tali kekangkuda itu. Setelah kudanya berhenti, raden ngabehi
segera turun sambil menuntun kuda. Raden ngabehi berkata,” besok seketurunanku,
saya di mataram saja, yang masih hutan belantara.” Sultan berkata lagi, “ kalau
kakang sudah terim, kakang panjawi segera berangkatlah ke pati sekarang juga.
Negara pati tatalah baik-bai. Adapun negara mataram besok, kalau saya sudah
kembali ke pajang, akan saya berikan kepada kakang pemanahan, kakang jangan
pulang bersama saya. Tolong kakang ke danaraja dulu, memberi tahu kakangmbok
kalau arya penangsang sudah mati. Adapun pesanku, kakangmbok saya mohon sudahi
tapanya. Segeralah memakai kain. Jangan lama-lama disana, segeralah kakang
kembali.”[7]
Ratu Kalinyamat kembali menjadi bupati Jepara. Setelah kematian
Arya Penangsang tahun 1549, wilayah Demak, Jepara, dan Jipang menjadi bawahan Pajang yang dipimpin raja Hadiwijaya. Meskipun demikian, Hadiwijaya
tetap memperlakukan Ratu Kalinyamat sebagai tokoh senior yang dihormati.
[1] Drs.
Ridin sofwan, islamisasi di jawa, pustaka pelajar, yogyakarta, 2000, hlm
139
[2] HM.
Nasrudin Anshory, Ch, Neo Patriotisme: Etika Kekuasaan dalam Kebudayaan Jawa,
LkiS Yogyakarta, yogyakarta, 2008. Hlm 156
[3] Ibid
,.hlm 157
[4] Ibid 158
[5] Ibid,.
Hlm 161
[6] Ibid,.
Hlm 163
[7]
Ibid,.hlm 167
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusgimana mbak?
HapusTulisannya ketutupan background. Susah d baca huhuhu
BalasHapuslho enggk kok yang lain pada buka bisa...saya cek juga tulisannya kebaca kok...
HapusTulisannya ketutupan background. Susah d baca huhuhu
BalasHapusSudah saya perbaiki kak...soalnya saya biasanya bukanya lewat lapto jd ada backgroundnya sendiri...belum ngecek kalau lewat hp gimana...maaf yaa
BalasHapusTambah tahu ceritanya...
BalasHapusBaca juga iniberitanya.com
Tambah tahu ceritanya...
BalasHapusBaca juga iniberitanya.com
Hehehe iyaa kalau aku itu nulisnya dr buku
Hapusbackgroundnya cantik ,,, :v
BalasHapusHehehe makasih
HapusKren sayang. ceritane dowu
BalasHapusHahaha diwoco pol lebar to
HapusApakah ini Fakta sejarah ?
BalasHapusSejarah menulis seperti itu
Hapus
BalasHapusJadi gitu ya (y)
Hehehe iya kurang lebih seperti itu
BalasHapusInti yang sesuai judul dimana?
BalasHapushahaha analysis sendiri ya....itu cuma sejarang yang melatar belakangi adanya mitos itu
Hapuskeren...aq wong jporo mlah lgek rti critane,wong jporo koq gk rti sjarah jporo..hahaha
BalasHapushehehe makannya kepoin terus blog saya...biar tau sesuatu tentang jepara yang mungkin kamu belum tau sebelumnya,,, makasih ya udah sempetiin waktunya untuk membaca
Hapusoke..tnang aja..tak pantengin trs blog kmu..kmu orang jpra jg ya?
BalasHapusiyaaa saya asli jepara punya
HapusJodoh, rejeki, mati itu takdir Allah
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusiya betul itu memang hanya mitos belaka.. jodoh sudah diatur
HapusTulisan bodoh, mbulet gak jelas
BalasHapusjangan gitu masnya.. dihargailah.. kasian mbaknya sudah nulis capek-capek kok gak dihargai.. kalo kritik harusnya sopan jangan menjudge gitu..
Hapusbagus mbak nambah pengetahuan makasii ya mbak..
BalasHapusTerimkasih mbak
BalasHapusTerimkasih mbak
BalasHapusJual Cytotec Obat Aborsi Asli Tuntas
BalasHapusPIl Obat Aborsi
Obat Aborsi
Males bacanya kak.. bisa dicritain?q tak dengerin 😊
BalasHapuslanjutkan cerita Aryo Penangsang, saya asli Yogyakarta tetapi sangat kagum dengan sosok Aryo Penangsang
BalasHapusseandainya dulu Aryo Penangsang menang dalam perang mungkin sekarang Jipang menjadi Kota besar dan ada Kratonnya seperti..
BalasHapus